aku-laki-laki (hanya)

Aku  hanya seorang laki-laki yang percaya bahwa di dalam bahasa ada kata-kata.

Bahwa di setiap jeda waktu terselip doa.

 

Aku hanya seorang laki-laki yang kadang tak berdaya

yang cukup berani menaruh harap dalam mayapada..

 

Aku hanya seorang laki-laki… sama seperti mereka

 

Aku aneh ya? Iya!

 

skipday.huh.

Hari itu semua orang memakai wajah suka cita, memasang senyum terbaik mereka, menyapa siapa saja yang lalu lalang di hadapan mereka. Mereka yang humoris, penuh semangat, berdedikasi dan cinta lingkungan,  berselera tinggi, mereka yang keren. Huh. Tapi saya? hum. Hari itu disambut oleh matahari yang bangun pagi dengan tidak leluasa. Dipagut awan gulita. Semakin lama semakin pekat warnanya. Disahut-sahuti bunyi guruh dan petir yang mengepung  kerajaan langit. Lalu gerimis lambat laun akan menjadi tetesan hujan . Membasahi tanah. Ada bau tanah dan bau hujan, semua manusia tak pandang usia mencari tempat berteduh, dimana saja agar mereka tak kuyup kedinginan. Agar ibu-ibu mereka tak mengomel-mengomel karena baju anak-anak pulang sekolah diguyur hujan. *ah saya random sekali* Lanjut membaca

chosenphobia

Gambar

Membawa diri untuk ambil bagian dalam memutuskan banyak pilihan yang saling berbeda adalah bingung dalam arti –gueh-ingin- pingsan-ajah. Atau paling tidak berkeinginan untuk melempar salah satunya dengan mata tertutup setelah dilakukan random acak mungkin adalah ide yang brilliant. Tapi lagi-lagi memilih tidak semudah membolak-baikkan telapak tangan, begitu para sesepuh pernah berkata.Tak  heran juga, saya seringkali dihadapkan pada kondisi labil, plin-plan atau apalah namanya ketika waktu mempertemukan saya dengan keadaan (harus) memilih. Saya utarakan bahwa saya memang tidak suka memilih. Memilih adalah harga mati yang harus mempertaruhkan sebagian nyawa saya.  Iya, saya tahu bahwa itu akan memberi  image bahwa saya akan dicap seorang yang tak memiliki konsistensi adekuat. Atau sudah dicap? Ah, saya memang selalu begini, apa adanya, tanpa penyedap rasa. Saya yang sederhana, saya yang tak suka memilih. Lanjut membaca

mereka merindukan aku

Terselip doa untuk ibu dan ayah ku tercinta
Dimana mereka Kau titipkan energi yang tak pernah lekang karena waktu
Yang tak pernah termakan karena zaman
Dimana mereka Kau taruhkan letupan semangat
Bahkan ketika mereka sedang berduka
Digoyang-goyang nestapa
Lagi-lagi  Kau kuatkan mereka
Kau tancapkan hati yang sabar lagi teguh
Bahwa hidup mengajari mereka dewasa

Hingga celah-celah rindu yang kembali Kau titipkan pada jiwa mereka
Tak pernah padam hingga titik jenuh pun ada.
Dan jarak memetakan langkah mereka
Menuju riak-riak rindu
Dan rindu kembali terselip dalam hati mereka
Untukku, untukku, dan untuku anak mereka

Rindu menaksir ada cinta dan sayang di satu titik bagian hati mereka
Untuk ku
Lalu mereka kembali membisikkan kepadaku diam-diam
Hingga suara mereka serak dimakan usia
Bahwa diam-diam mereka ingin menghapus lelah
Bahwa mereka tak ingin aku kecewa
Bahwa mereka tak ingin aku berduka
Aku sedih, aku letih, aku muak, aku jenuh, aku kesal, aku marah, aku gagal, aku cemburu,
aku cemburu Dia lebih mencintai yang lain. Bukan aku.

Kembali terselip sayang dan cinta untuk ayah dan ibuku
Bilang bahwa sepanjang hidup, mereka merindukan aku




*icha kapan pulang, Nak??? Belum tau nih ma.. icha kelarin urusan kampus dulu ya, Ma. *