Paris (Eiffel dan Disneyland Paris)

Paris Hari pertama…

Sudah satu bulan 13 hari saya berada di benua biru Eropa. Sehari setelah resepsi pernikahan, saya dan suami langsung kabur(?) ke negara Perancis. Kebetulan, semester dua perkuliahan ini suami pindah ke kota Nancy, yang mana enam bulan sebelumnya menjalani semester satu di kota Liege, Belgia.

Mendengar negara Perancis, ingatan saya langsung tertuju pada kota Paris, jantungnya negara ini, kota paling masyur dan paling “mewah” yang pernah saya ketahui. Bagaimana tidak, di kota ini, menjulang angkuh sebuah menara, yang bagi siapa saja akan berdecak kagum melihatnya: Menara Eiffel, terkenal di seantero belahan dunia.

Setelah sepekan kami di kota Nancy, kami pun sudah merencanakan untuk jalan- jalan ke Kota Paris. Ah saya begitu excited! Baca lebih lanjut

pahamibetul

Dalam hidup, banyak hal yang enggan untuk kita lihat kembali. Seperti masa lalu.

Yang membuat sebagian orang dalam silam, dalam pedih, dalam dingin, dalam kekecewaan, dalam air mata merasa sangat menyesal.

Namun, kita masih punya banyak kesempatan untuk menutup pintu yang mengarah ke arah sana. Dan memilih langkah maju ke depan adalah cara terbaik yang kita persembahkan.

Terkadang, kita sendiri yang melabeli hidup dengan terminologi: kejam. Padahal, sejatinya masa lalu mengajarkan kita beranjak..

Ketika kita memilih mengambil jarak pada masa lalu, maka kita “cut” saja yang tidak memvalidasi, yang tidak kita inginkan, dan yang diinginkan kita jadikan tanjakan masa depan. Bukankah mudah saja?

Dalam hati yang penuh dengan luapan emosi kekecewaan terhadap masa lalu, kita reduksi saja rasio untuk masa depan. Agar diri merasa lebih baik..

Dalam hati yang selalu menyalahkan diri sendiri, bagaimana jika kita tutup semua pintu dari segala penjuru? Kita hapus luka-luka masa silam, kita enyahkan kekhawatiran “saya bukan manusia yang baik”?

Dalam diri yang pernah merasa kecewa, dan ingin merasa berharga,

Kita duduk sejenak memikirkan masa depan,

dan kita pahami betul-betul bahwa kita tak lagi orang yang sama di masa lalu..

*si icha yang ga bisa tidur, lalu meracau-racau saja dengan tuts-tuts keyboard*

H-50 menuju 22 tahun

H- 50 menuju usia dua puluh dua tahun. Bagi sebagian orang adalah usia dimana ia sudah mampu mencapai segala macam target hidup yang ia rencanakan, yang ia upgrade, yang ia cita-citakan.

Ah, usia dua puluh dua tahun. Bagi saya, usia dengan banyak letupan-letupan yang menggembirakan dan membangun banyak rencana-rencana menuju masa depan gemilang *uhuk*

Usia dua puluh dua tahun.. Dimana merencakanan target hidup dalam sebuah “Dream CV” (begitu saya menyebutnya). Saya buat target hidup hingga tahun 2017 (baru sanggup bikin sampe tahun segitu) secara detail dan jelas dan Maha Besar Allah yang sudah mengizinkan satu per satu mimpi itu terwujud. Saya upgrade dream CV pada akhir desember, dan sudah tiga bulan, ketika saya memulai untuk membuatnya dengan uraian air mata, kini berhasil saya lalui.

Maha Besar Allah, yang menjadikan doa sebagai sarana untuk meminta kepada-Nya.

Dan hari ini, dalam H-50 usia dua puluh dua tahun, tiba-tiba teman saya mengingatkan.

C: cha, jadi ingat obrolan kita dulu

I: obrolan yang mana? Kita terlalu banyak ngobrol,hehhe

C: itu loh cha, dulu di antara FKM dan pocin, tentang target usia menikah..

I: Masya Allah, berarti kurang lebih satu tahun lagi dong yaaa.. tidaaaaakkk, kenapa waktu cepat sekali beranjak?

C: tenang icha, masih lama itu.. masih bisa mempersiapkan diri..

Kamu boleh saja berencana, tapi, Allah adalah sebaik-baik perencana..

Entahlah apakah penting atau tidak tulisan ini, tapi saya menulisnya hanya sebagai pengingat diri, bahwa kini, kamu tidak lagi seperti anak kecil, Cha!! Hiks.

Terkadang ingin sekali rasanya menampar diri sendiri karena kerdilnya ilmu yang dimiliki, miskinnya akhlaq yang terpuji, dan lemahnya iman yang selalu disesali.

Terkadang ingin rasanya teriak dan berkata, Allah, dewasakan icha!

Terkadang ingin rasanya mengutuki diri sendiri untuk terus menjadi wanita shalihah..

Terkadang ingin rasanya menumpahkan, melenyapkan, membuang jauh sifat-sifat yang tidak disukai Allah, Rasulullah dan orang-orang disekitar.

Menuju usia dua puluh dua tahun, bukan usia yang menuntutmu untuk begini dan begitu. Kamu adalah kamu ketika orang lain mungkin beranggapan, kamu serba menyebalkan, serba menjengkelkan, serba salah, serba buruk, serba tidak baik…

Ketahuilah, menuju usia yang tidak muda lagi (ehem) adalah kesempatan kamu untuk terus belajar, karena sejatinya hidup adalah pembelajaran, kan? Dan kamu sungguh tidak muda lagi untuk merengek-rengek terhadap masalahmu, cha…

Menuju usia dua puluh dua tahun ..

Kamu boleh saja cha, bilang ke teman-teman perempuanmu, bahwa kamu punya waktu satu tahun lagi mempersiapkan diri menemui calon pendamping hidupmu.. yang kini, juga tengah Allah persiapkan untuk kamu.. yang kini, juga sedang Allah tempa untukmu, agar kalian satu sama lain merasa pantas dan dipantaskan. Menuju syurga Allah dalam sebuah keluarga…

Dan kamu boleh saja bilang ke teman-teman perempuanmu, kamu belum siap menuju usia dua puluh tiga tahun.. tapi boleh jadi , ketika kamu tidak siap, Allah akan siapkan lahir dan bathin kamu. Dan boleh jadi ketika kamu bilang sudah sangat siap, Allah bilang kamu belum siap. Percayalah, menikah bukan masalah cepat atau lambat, tapi akan datang waktunya di saat yang tepat dengan orang yang tepat (insyaAllah)..

Kamu boleh saja berencana, tapi, Allah adalah sebaik-baik perencana..

Ditulis pada tanggal 17 Maret 2014

-sempat gagal posting-

JanganBacaPlis

Untuk calon imamku….       

Membangun sebuah rumah tangga dalam ikatan pernikahan tak semudah apa yang kita bayangkan, akan banyak aral melintang dalam proses pencapaiannya. Bekal materi saja tidaklah cukup, kesiapan mental dan kedewasaan masing-masing dari kita sangat menentukan untuk mewujudkan rumah tangga yang dirindukan syurga.

Aku bagimu adalah orang asing, begitu pula kamu bagiku. Jadi bisa saja ada kekuranganku yang tidak kamu sukai. Tapi aku harap, kamu menerimaku dalam kelebihan dan kekuranganku. Bukankah cinta sejati tak butuh alasan,kan?

Aku memilihmu, karena saat itu juga kamu berjanji akan membawa aku dan keluarga kita kelak untuk bertemu dengan Allah. Kamu tahu, betapa aku tak mampu membendung butiran-butiran air mata ini jatuh membasahi pipi. Kamu tahu, pada saat itu juga aku tengah meyakinkan diriku, bahwa kamu adalah orang yang aku cari, menjadi pasangan dunia akhirat ku, menjadi orang yang akan mendekatkanku pada Allah.

Pahamilah, menjadi pasangan suami istri menuntut kita untuk menerima satu sama lain. Berkomitmen kepada Allah bahwa saat kita jadi satu, syurga pun semakin dekat.

Saat ini, kita bisa saja merencanakan banyak hal. Tapi perlu kita ketahui bahwa kebahagiaan dalam sebuah perkawinan tidak tercipta begitu saja. Permasalahan rumah tangga akan singgah mengisi hari-hari berdua. Kondisi pasang akan memberikan kita kebaikan-kebaikan, sedangkan kondisi surut akan menguji rasa sabar kita.

Untuk kamu,

Bukankah cinta sejati hanya datang dari hati yang suci? Maka, teruslah pupuk dan kelola rasa itu.

Dampingilah aku sepenuh jiwamu, ingatkan aku jika aku tak mampu membahagiakanmu, ajari aku jika aku banyak melakukan kesalahan..

Untuk kita..

Semoga ketika ijab itu telah diucapkan, saat itu pula kita akan saling mengenal untuk selama-lamanya.

Ya, jatuh cinta pada orang yang sama…

 

Melisa Rahmadini


*ih pasti yang baca, langsung nyeletuk, “yaelah cha, Loe galau banget sih”.

hahaha. Tenang wahai permirsah pembaca setia blog aneh saya *hueks*

Percayalah, saya tidak sedang bergalau-galau ria..

hemm, saya hanya sedang mencoba bikin tulisan yang agak beda dari biasanya. Biar keliatan agak keren gituh. Biar saya keliatan normal.haha. Toh, biasanya tulisan disini, kalo ga nyeritain ibu, ya ayah, atau mentoknya nyeritain temen. Boleh dong sesekali saya bikin tulisan beginian? (Ngomong sama tembok dengan muka innocent)